Opini

Toleransi di Masjid Nur Rahmat

Catatan: Haerul Akbar

Malam kemarin, saya salat isya dan tarawih di Masjid Nur Rahmat, Jalan Wolter Monginsidi, Lingkungan Lompu, Sinjai. Masjid ini berhadapan dengan Maraja Convention Center, gedung baru milik Universitas Muhammadiyah.

Masjid itu jaraknya sekitar 1 kilometer dari kediaman saya. Sebenarnya, ada masjid lebih dekat. Masjid Al-Ikhwan Lompu dan Masjid Nurul Hasan di Jalan Dahlan Isma. Hanya sekitar 150 meter dari rumah saya. Lebih jauh beberapa meter dari lapangan sepak bola. Dari tiang gawang satu ke tiang gawang lainnya.

Saya memilih salat di masjid itu bukan karena berharap malaikat mencatat setiap langkahku adalah pahala. Bukan itu. Lagipula, jangan-jangan malaikat justru kesal dan berkata: ngapain salat jauh-jauh. Mengurangi saja jamaah di masjid dekat rumahmu. Hehe..

                 *

Saya salat di Masjid Nur Rahmat karena 2  hal. Pertama, saya agak telat bersiap ke masjid. Di dua masjid dekat rumah, begitu selesai azan langsung iqamah. Sedangkan di Masjid Nur Rahmat, antara azan dan iqamah ada jeda sekitar 10 menit. Biasanya digunakan jamaah untuk salat sunnah. Dengan jeda 10 menit itu, saya bisa berjamaah muwafik. Tidak masbuk.

Kedua, malam kemarin saya makan lumayan lahap. Sampai rongga perut seperti tak ada lagi ruang tersisa. Bisa mengganggu keseimbangan gula darah. Melebihi ambang batas. Makanya, harus diseimbangkan. Caranya, dengan berjalan kaki. Karenanya, saya memilih berjalan kaki menuju dan balik dari Masjid Nur Rahmat. Lumayan bisa dapat 2 kilometer.

                  *

Tapi, yang ini bukan soal jalan kaki. Bukan pula masalah gula darah. Ini tentang salat tarawih dan idul fitri.

Selepas salat isya malam kemarin  itu, Kepala Lingkungan Lompu, Andi Ramlan, naik ke mimbar. Saya kira dia mau ceramah ala ustaz dari pondok pesantren. Ternyata tidak. Ia menyampaikan pengumuman. Isinya lebih menarik dari ceramah ustaz yang kadang diisi humor untuk menghibur jamaah. Meski terkadang cerita karangan sendiri. Kalau tidak mau disebut dusta.

Ramlan — yang juga pengurus masjid tersebut — menyampaikan kurang lebih begini: “Malam ini adalah tarawih terakhir bagi yang puasa hari Rabu. Tarawih sudah cukup 30. InsyaAllah, lebarannya Jumat lusa.”

Puasa Rabu yang dimaksud Ramlan itu, adalah mereka yang mengikuti almanak ormas Muhammadiyah yang mulai puasa pada Rabu, 18 Februari 2026. Dan, InsyaAllah, lebaran Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026.

Ramlan tidak berhenti di situ. Dia melanjutkan, “Tapi bagi yang puasa hari Kamis dan besok malam masih mau tarawih, masjid ini masih terbuka untuk tarawih.”

Puasa hari Kamis yang dimaksud itu adalah puasa yang mengikuti pengumuman pemerintah, yang menetapkan puasa hari Kamis, 19 Februari 2026. Atau sehari setelah almanak versi Muhammadiyah. Hari berbeda, tapi sama-sama merasa mulai puasa ramadan pada 1 Syawal.

Bukan cuma tarawih. Salat Idul Fitri pun demikian. Masjid ini, kata Ramlan, terbuka untuk ibadah di tanggal 1 Syawal yang harinya bisa berbeda antara kalender ormas Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab dengan dengan mata hilal ormas NU dan sejalurnya serta dijadikan rujukan oleh pemerintah.

Inilah pertama kalinya saya mendengar dan mendapati ada masjid yang begitu toleran. Masjid Nur Rahmat yang membuka akses ibadah bagi semua umat Islam. Bukan sekadar membuka pintu bagi satu golongan yang kebetulan menjadi mayoritas pengurus masjid.

Begitulah seharusnya fungsi masjid. Apatah lagi masjid yang sering dilabeli  Islamic Center. Umumnya pengurus hanya membuka akses ibadah tarawih dan lebaran untuk waktu yang ditetapkan pemerintah. Padahal, penderma — bahkan sampai jadi donator tetap — di masjid itu adalah umat Islam secara umum. Bukan hanya yang puasa dan lebaran versi metode rukyatul hilal.

Jangan sampai  Islamic Center  yang seharusnya menjadi pusat kegiatan umat Islam, justru menjadi kegiatan parsial golongan tertentu.

Pun, pemerintah seharusnya tampil memfasilitasi dan memastikan kelancaran serta keamanan pelaksanaan ibadah terhadap ormas yang beda metode itu. Bukan justru  berdiri tegak di barisan ormas pengguna metode rukyatul hilal. Sehingga muncul kesan, Muhammadiyah yang menggunakan  metode hisab berhadapan dan berbenturan waktu dengan pemerintah..

Salut untuk pengurus Masjid Nur Rahmat. Pengurus yang mengedepankan toleransi dalam beribadah sesama umat Islam.

(Haerul Akbar, mantan pimpinan Komisi Penyiaran Indonesia Provinsi Kaltim dan Pimpinan Bawaslu Provinsi Kaltim)

Berita Terkait