PAREPARE — UPTD SMP Negeri 11 Parepare menggelar sosialisasi Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) Tahun Pelajaran 2026/2027 yang berlangsung di sekolah, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang dihadiri Ketua Komite UPTD SMPN 11 Parepare, Drs Andi Syahrir MAg, bersama para orang tua murid tersebut menjadi momentum penting sekolah untuk menyampaikan visi, misi, program kerja, sekaligus tantangan pendidikan yang sedang dihadapi.
Kepala UPTD SMPN 11 Parepare, Zainal Abidin SPd MPd, mengatakan bahwa sosialisasi visi dan misi sekolah penting dilakukan dengan melibatkan orang tua agar seluruh pihak memahami arah pendidikan yang ingin dicapai bersama.
“Ibarat sebuah mobil, sekolah ini ada tujuan. Tujuan itu tidak bisa hanya diketahui oleh guru di sekolah, tetapi harus juga diketahui para orang tua. Mau dibawa ke mana anak-anak kita, tentu semuanya mengarah pada kebaikan,” ujar Zainal Abidin.
Ia menjelaskan, visi SMPN 11 Parepare adalah “Berakhlak Mulia, Unggul Prestasi dan Peduli Lingkungan.” Visi tersebut dijabarkan melalui sejumlah nilai, seperti beriman melalui pembiasaan salat berjamaah sebelum pulang sekolah, membangun akhlak mulia dengan menghidupkan budaya Tabe sebagai kearifan lokal, mengembangkan kemampuan bernalar kritis, mendorong keunggulan prestasi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kalau sudah beriman, diharapkan lahirlah akhlak mulia. Budaya Tabe adalah budaya leluhur yang perlu diwariskan di sekolah,” tambahnya.
Untuk mendukung visi tersebut, sekolah menerapkan sejumlah misi strategis, di antaranya pembelajaran mendalam (deep learning) yang ramah anak, kritis, kreatif, dan berbasis teknologi digital guna mewujudkan delapan dimensi profil lulusan. Selain itu, sekolah mengoptimalkan pemanfaatan alam sekitar serta budaya literasi dan numerasi sebagai media pembelajaran inklusif.
Dalam kesempatan tersebut, Zainal Abidin menegaskan bahwa sekolah membutuhkan dukungan orang tua bukan dalam bentuk sumbangan, melainkan kolaborasi aktif.
“Kami tidak menolak kalau ada sumbangan, tetapi kami membutuhkan kolaborasi dalam mendukung pengembangan pendidikan bagi anak-anak sesuai dengan bakat mereka masing-masing,” ungkapnya.
Pihak sekolah juga memaparkan potensi serta tantangan yang dihadapi. Walau memiliki lingkungan belajar yang representatif sebagai laboratorium hidup serta didukung fasilitas laboratorium IPA, komputer, dan sarana olahraga, sekolah menghadapi tantangan lokasi di wilayah pinggiran kota yang berdampak pada terbatasnya jumlah peserta didik serta dukungan pembiayaan.
Tantangan lainnya meliputi batasan penggunaan telepon seluler pada anak, penurunan capaian numerasi, hingga pembentukan karakter.
Untuk setahun ke depan, UPTD SMPN 11 Parepare menetapkan beberapa target strategis: Karakter & Etika: Target 85 persen siswa menerapkan budaya Tabe’. Akademik: Pemulihan capaian numerasi hingga angka target 61,00.
Ekosistem Sekolah: Penurunan angka pelanggaran sebesar 20–30 persen melalui penerapan disiplin positif dan pendekatan restitusi.
Anatomi Kurikulum SMPN 11 Parepare diarahkan untuk membangun manusia seutuhnya, terdiri atas mata pelajaran inti (1.080 jam/tahun), proyek karakter P5 (360 jam/tahun), pengembangan bakat, serta penguatan akar identitas (36 jam/tahun).
Dalam sesi diskusi, beberapa orang tua memberikan masukan. Khalifah mengusulkan agar sekolah memberikan pekerjaan rumah (PR) guna mengurangi waktu anak bermain ponsel di rumah. Sementara Sarianti mengusulkan perbanyakan kegiatan ekstrakurikuler dan penataan kegiatan Pramuka agar lebih banyak dilaksanakan di lingkungan sekolah.
Menanggapi masukan tersebut, pihak sekolah menekankan pentingnya pendampingan di rumah, termasuk pembatasan penggunaan ponsel dan kepastian waktu tidur anak. Zainal Abidin menegaskan bahwa pendidikan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah.
“Sinergitas sekolah dan orang tua diperlukan untuk membantu anak menjadi pribadi yang kuat, sehat dan berakhlak. Mereka membutuhkan pendampingan, kasih sayang dan ruang untuk berkembang secara optimal,” pungkasnya. (*)







