Oleh Dr. Ahdar, M.Pd.I
(Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam IAIN Parepare)
Dalam budaya kita, terutama di tanah Bugis, sosok ayah sering kali hadir dalam diam yang penuh makna. Ia tidak banyak bicara, namun setiap langkah dan tindakannya adalah nasihat kehidupan. Ayah mungkin tidak menulis buku atau berpidato tentang kepemimpinan, tapi dari caranya bekerja, menepati janji, dan melindungi keluarga, kita belajar tentang arti menjadi lelaki sejati lelaki yang tangguh karena tanggung jawab, bukan karena kekuasaan.
Di tengah dunia yang kian menilai laki-laki dari kekuatan fisik dan pencapaian materi, kita perlu kembali pada nilai dasar yang diwariskan para ayah: bahwa kekuatan sejati ada pada kesetiaan terhadap amanah. Itulah nilai yang diwariskan secara turun-temurun dari bahu ayah yang kokoh ke pundak anak laki-lakinya yang mulai tumbuh menanggung beban kehidupan.
Ayah: Pemimpin yang Diam, Namun Mengajarkan Banyak Hal
Dalam Islam, laki-laki disebut sebagai qawwam pemimpin, pelindung, dan penanggung jawab bagi keluarganya. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisā’ ayat 34:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
Namun, makna qawwam bukan dominasi. Bukan pula lisensi untuk berkuasa, melainkan panggilan untuk memikul tanggung jawab dengan adil dan kasih.
Ayah yang sejati tidak berteriak agar dihormati; ia dihormati karena kesabarannya, ketegasannya, dan ketulusannya dalam melindungi. Kepemimpinan seperti inilah yang seharusnya diwariskan pada anak laki-laki kepemimpinan yang berlandaskan kasih sayang dan moralitas, bukan gengsi atau kekuasaan.
Dari Bahu ke Pundak: Sebuah Warisan Nilai
Setiap anak laki-laki pernah duduk di bahu ayahnya, merasa tinggi dan aman. Dari bahu itu, ia belajar bahwa ayah adalah tempat bersandar dan simbol perlindungan. Namun waktu terus berjalan dan kini, ketika ayah menua, giliran sang anak berdiri dengan pundaknya sendiri.
Perpindahan simbolik ini adalah proses pewarisan nilai. Dari bahu ayah ke pundak anak, berpindahlah tanggung jawab untuk menjaga keluarga, menegakkan kebenaran, dan melanjutkan perjuangan. Anak laki-laki harus memahami bahwa menjadi pemimpin bukan tentang berkuasa, tetapi tentang siap memikul amanah dengan kesetiaan dan keikhlasan.
Dalam kearifan Bugis, dikenal pepatah “Reso temmangingi, natemmamu malomo” kerja keras yang sungguh-sungguh tidak akan mengkhianati hasil. Begitulah ayah mengajarkan kepemimpinan: dengan ketekunan, bukan kata-kata. Ia menunjukkan bahwa laki-laki sejati adalah yang berani menunaikan kewajiban meski tanpa tepuk tangan.
Tanggung Jawab dan Kesetiaan: Cermin Lelaki Beriman
Dalam studi gender Islam, peran ayah tidak sekadar simbol patriarki, melainkan pelindung yang bertanggung jawab. Seorang qawwam adalah yang mampu menjaga keseimbangan, mengayomi keluarganya dengan adil, dan menjadi teladan dalam akhlak.
Ulama besar seperti Quraish Shihab menegaskan bahwa kepemimpinan laki-laki bukanlah bentuk keunggulan mutlak, tetapi amanah yang disertai beban moral dan spiritual.
Sayangnya, banyak laki-laki muda masa kini memahami “kepemimpinan” hanya sebagai kekuasaan, bukan pelayanan. Padahal, kepemimpinan sejati adalah keberanian untuk menanggung, bukan menindas; untuk menjaga, bukan menguasai. Anak laki-laki perlu belajar dari sosok ayah bahwa tanggung jawab tidak perlu diumumkan cukup dijalankan dengan ketulusan.
Menjadi Lelaki Sejati
Menjadi lelaki sejati hari ini berarti mampu menyeimbangkan kekuatan dengan kelembutan, tegas tapi santun, tangguh tapi berempati. Ayah mungkin tak meninggalkan banyak pesan, tapi dalam setiap tindakannya, ada makna yang dalam: bekerja keras tanpa mengeluh, menepati janji, menghargai ibu, dan tetap berdoa meski dalam kelelahan. Itulah bentuk kepemimpinan sejati, yang mengajarkan anak laki-laki untuk hidup dengan kehormatan dan tanggung jawab.
Kini, saat pundakmu mulai menanggung beban kehidupan, ingatlah bahu ayah yang dulu menopangmu. Ia tak hanya menuntunmu berjalan, tetapi juga mengajarkan bagaimana memikul beban dengan sabar dan ikhlas.
Lelaki sejati bukan dilihat dari kekuatan fisiknya, tetapi dari kesetiaan pada amanah. Dan ketika pundakmu mulai kokoh, itulah tanda bahwa warisan ayah telah benar-benar hidup di dalam dirimu. (*)







