Catatan : Haerul Akbar
Sabtu (18/7) sore, sahabat saya, Bahrun, mengundang via whatsapp (WA). Undangan santap siang di rumahnya. Hari ini.
Saya tahu ini undangan santap siang bersama peserta arisan alumni ’84 SMP 2 (sekarang SMP 7) Sinjai. Danramil Sinjai Utara, Kapten Sainuddin, sebelumnya sudah menyampaikan kalau Juli ini Bahrun menjadi tuan rumah arisan alumni. Kapten Sainuddin dan Bahrun sama-sama lulusan SMP 2.
Saya juga alumnus SMP 2. Tapi, saya tidak bergabung di arisan tersebut. Saya masih menetap di Samarinda ketika arisan dibentuk.
Karena bukan peserta arisan, saya agak ragu hadir. Kurang pas rasanya. Tapi, kata hati saya mendorong hadir. Ini undangan pribadi Bahrun. Yang pekan lalu sama-sama menghadiri reuni SMA Negeri 277 Sinjai di Bantaeng. Saya dengan Bahrun memang satu sekolah sejak SD sampai SMA.
*
Saya tidak santap siang di rumah. Sengaja berlapar perut. Biar tidak saling gesek dengan menu di rumah Bahrun. Biar maknyusnya terasa sebelum tabung otot di leher mendorongnya ke lambung.

Saya “tamu” kesebelas yang hadir. Laki-laki cuma tiga orang: H. Arsyad, Azis “Denis”, dan saya. Tidak termasuk Bahrun, tuan rumah.
Hidangan yang dipajang di ruang tamu, cukup menggoda. Ada coto dan ayam nasu likku (ayam dengan bumbu dominan lengkuas) yang berpasangan lontong dan buras.
Kenyang sudah. Tapi, kue putu pesse dan apang golla masih menggoda. Sambil nyicip kue, saya menulis catatan ini di handphone . Di teras rumah Bahrun. Tak lama datang teman letting SMA, Hj. Rusmiati, yang ternyata keluarga dekat Bahrun.
*
Bahrun lahir di Sinjai 59 tahun silam. Saat itu, orangtua memberinya nama Kamaruddin. Itu nama yang terakikah.
Dalam masa pertumbuhan, dia dipanggil Bahrun oleh keluarganya. Sapaan yang melekat sampai dia masuk sekolah dasar. Bahkan tercatat di daftar presensi guru mata pelajaran. Sampai jelang akhir studi di SD, namanya tetap Bahrun.
Seperti saya, Bahrun juga memilih SMP 2 sebagai kelanjutan dari sekolah dasar ke menengah. Ke sekolah di dekat lapangan nasional (lapnas) itu. Yang sekarang di trotoar seberangnya banyak kios makanan-minuman.
Ketika pengumuman, tidak ada nama Bahrun yang lulus di SMP 2 saat itu. Pun, tak ada nama Bahrun di daftar presensi pegangan guru mata pelajaran. Tapi, dia duduk di salah satu bangku kelas 1-D. Kok, bisa?
Usut bin selidik, ternyata namanya kembali menjadi Kamaruddin. Itu jelang ujian di SD 23, sekolah dasar kami. Karenanya, di ijazah SD-nya tertulis: Kamaruddin. Bukan Bahrun. Dan, nama Kamaruddin itulah yang terdaftar di SMP 2.
Meski berubah nama, ia tak perlu repot soal akta kelahiran. Karena, saat itu, tidak ada akta kelahiran sebagai pelengkap syarat pendaftaran.
Dan bisa jadi, Bahrun, eh, Kamaruddin, malah belum ada akta kelahirannya saat itu. Hehe. Mengapa berubah dari Bahrun ke Kamaruddin? Ternyata, ini terkait administrasi di kantor ayahnya, Departemen Pertanian.
Menjelang ujian SD, Departemen Pertanian meminta data keluarga. Ayah Bahrun yang notabene pegawai Departemen Pertanian, Achmad Tulisi, mengirim berkas dengan nama Kamaruddin. Seperti nama akikahnya. Bukan Bahrun.
Beruntung, pengiriman berkas itu sebelum ujian akhir sekolah. Jadi masih bisa menyesuaikan. Lagipula saat itu administrasi sekolah masih manual dan lokal. Belum memakai sistem yang terpusat.
Meski sudah puluhan tahun nama kewarganegaraannya berubah menjadi Kamaruddin, hingga kini, teman sekolahnya tetap menyapanya Bahrun. Dari semua alumni SMP 2 yang hadir di kediamannya, siang hingga sore kemarin, tak seorang yang menyapanya Kamaruddin. Tetap Bahrun. Yang kalau dirujuk ke bahasa Arab bermakna: laut atau samudra..
* Penulis adalah alumnus SMP 2 Sinjai, mantan ketua Komisi Penyiaran Kaltim dan Ketua Bawaslu Kaltim.






