Daerah

Silaturahmi ’87

Catatan: Haerul Akbar

Petang tadi, sekitar 30 alumni angkatan 1987 SMA 277 (sekarang SMA 1) berkumpul di salah satu rumah makan di kawasan Jalan Sam Ratulangi, Sinjai. Mereka mengambil 3 petak gazebo di depan rumah makan itu.

Usia mereka tak lagi muda. Sebagai  lulusan SMA tahun 1987, paling tidak usianya antara 57 hingga 59 tahun. Pra-lansia sudah. Sebentar lagi masuk ruang lansia.

Tapi canda, tawa, dan semangat mereka seperti tak beriring dengan usia. Energik banget. Memang, kata orang, usia hanya soal angka. Yang tak bisa diatur mundur atau maju.

Aparatur sipil negara (ASN) pun tak bisa menghindar hitungan masa pensiun.  Di nomor induk pegawai (NIP) sudah tercantum jelas tanggal, bulan, dan tahun kelahiran.  Begitu tiba masa, lambaian tangan mengiringi langkah keluar kantor.

Tapi, sehat dan energik itu pilihan. Silaturahmi — bertemu dan bercengkrama — adalah salah satu cara. Itulah yang dilakukan para pra-lansia “87” itu. Pertemuan yang dibingkai “Arisan Silaturahmi”.

Di gazebo, mereka duduk melingkar. Ada yang terpaksa duduk seperti duduk di antara dua sujud orang salat. Bisa jadi karena lingkaran perut makin melar, jadi susah bersila. Dan, saya adalah contohnya. Hehe..

Sejak beberapa waktu terakhir, agak susah memang saya duduk bersila kalau makan. Karena, itu tadi, pengaruh lingkar perut yang melebar.

Kalau dipaksa, sih, sebenarnya masih memungkinkan. Tapi, saya akan kehilangan menu andalan jika letaknya agak jauh dari jangkauan. Jadi, cara terbaik adalah duduk seperti duduk di antara dua sujud orang salat. Biar menu kiri-kanan-depan bisa terjangkau tangan.

Apalagi kali ini, pak Burhanuddin dan istri datang dari Lemo membawa durian. Kalau sampai bersila, bisa kesulitan saya menjangkau durian itu. Tak kunikmati dengan baik lezatnya durian Lemo yang cukup terkenal itu. Hehe.

Para perempuan energik itu memilih foto bareng terlebih dulu sebelum berbuka.

Silaturahmi — yang dirangkai buka puasa bersama — itu diinisiasi ibu-ibu peserta arisan khusus angkatan 87. Para pria, seperti biasa,  sami’na wa atha’na ” saja. Yang penting semua semangat. Semua bahagia.

Yang agak mengganjal di hati adalah sahabat 87 yang bermukim di luar Sinjai. Mereka tak bisa hadir langsung. Padahal, transferan dana arisan mereka paling cepat. Lancar. Tuntas.

Tapi, saya yakin, mereka bahagia melihat keceriaan itu. Bahagia teman alumni di Sinjai bisa berkumpul di bulan penuh berkah. Bahagia yang diiringi untaian doa.

Lagi pula ini bukan soal menu makanan. Bisa jadi, menu di rumah mereka jauh  lebih beragam dan nikmat.

Tapi, ini soal bahagia. Bahagia memandang potret para sahabat di gazebo dan di plang rumah makan  itu..

Salam hormat buat pak Doktor Zulkifli Aspan, pak H. Tajuddin Nur, pak H. Muskamal, pak Lukman Nurtam, bu Hj. Sutriani, bu Hj. Nurlaeli Yahya, bu Nurlaeli Fattah, bu Andi Wahidah Mallanti, bu Hj. Rahmania Ali, bu Andi Hasniati, dan bu Andi Rajnawati Mahmud di Makassar.

Salam hormat pula buat pak Azis di Maros, bu Etty Herawati di Pinrang, bu Andi Ratu di Selayar, bu Andi Sufiati di Jeneponto, dan bu Mahfiah di Balikpapan.

Kalian hebat. Merajut dan merawat silaturahmi dari jauh.  Salam hormat untuk semuanya. (*)

Berita Terkait