Daerah

UMPAR Kembangkan Pupuk Arromang dari Limbah Pertanian

PAREPARE — Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) mengembangkan Pupuk Arromang, pupuk granul slow release berbasis biomassa dan limbah pertanian untuk mendorong pemanfaatan limbah sekaligus meningkatkan efisiensi pemupukan. Inovasi yang dikembangkan melalui kolaborasi UMPAR dan PT Majjama Agro Industri itu diarahkan menuju hilirisasi agar hasil riset dapat dimanfaatkan petani dan memiliki nilai ekonomi.

Ketua tim pengembang, Dr. Sukmawati, kepada Tim Resona Saintek UMPAR, menjelaskan Pupuk Arromang berangkat dari keprihatinan terhadap melimpahnya limbah pertanian di kawasan Ajatappareng, seperti jerami, sekam padi, dan kotoran ternak. Limbah tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian justru menjadi sumber polusi karena dibakar.

“Arromang dalam bahasa Bugis berarti subur dan membawa berkah. Kami ingin limbah yang dianggap tidak berguna ini kami valorisasi menjadi produk yang membawa kesuburan bagi tanah dan keberkahan ekonomi bagi petani,” ujar Dr. Sukmawati.

Menurut Sukmawati, nama Arromang mencerminkan tujuan pengembangan inovasi tersebut, yakni mengubah bahan yang selama ini dipandang sebagai limbah menjadi produk yang memberikan manfaat bagi tanah dan petani. Pendekatan itu sekaligus menempatkan pengembangan pupuk sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di wilayah pedesaan.

Keunggulan utama Pupuk Arromang terletak pada penerapan teknologi slow release. Berbeda dengan pupuk konvensional yang nutrisinya relatif mudah tercuci oleh air hujan, Arromang menggunakan lapisan bio-komposit alami yang dirancang untuk melepaskan nutrisi secara perlahan selama 30–40 hari sesuai fase pertumbuhan tanaman.

Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan menekan biaya hingga 30 persen. Kandungan mikroorganisme lokal unggul di dalam pupuk juga diarahkan untuk membantu memperbaiki struktur biologi tanah sehingga manfaat produk tidak hanya ditujukan pada tanaman, tetapi juga pada kondisi tanah.

Dalam pengembangan teknologinya, UMPAR melibatkan tim multidisiplin yang diketuai Dr. Sukmawati dari Program Studi Agroteknologi. Tim tersebut diperkuat Prof. Irdhatullah Rahim di bidang bioteknologi, Fatmawati, S.P., M.P. di bidang teknologi lingkungan, serta Bahruddin, S.E., M.Si. di bidang ekonomi pembangunan.

Kolaborasi lintas bidang tersebut dirancang agar inovasi tidak berhenti sebagai prototipe atau hasil penelitian akademik. Pengembangannya juga mempertimbangkan aspek teknis, agronomis, ekonomi, dan peluang komersialisasi sehingga teknologi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna.

Saat ini, berdasarkan penjelasan Dr. Sukmawati, Pupuk Arromang telah memasuki tahap uji lapang terbatas pada kelompok tani binaan di Suppa, Kabupaten Pinrang, dan Barru. Hasil awal yang disampaikan menunjukkan peningkatan produktivitas padi sebesar 18–22 persen, disertai kondisi tanah yang semakin membaik.

Dokumen pengembangan UMPAR juga mencatat bahwa Pupuk Arromang telah menjalani pengujian multilokasi pada tiga komoditas unggulan Sulawesi Selatan, yakni bawang merah di Kabupaten Enrekang, jagung di Kabupaten Soppeng, dan padi di Kabupaten Pinrang. Pengujian tersebut dilakukan untuk melihat konsistensi respons tanaman pada kondisi agroekosistem dan karakteristik usaha tani yang berbeda.

Pengujian lapangan tidak hanya digunakan untuk menilai pertumbuhan dan hasil tanaman. Kegiatan tersebut juga mempertemukan peneliti, petani, dan mitra dalam proses pengembangan teknologi agar formulasi pupuk dapat disesuaikan dengan kebutuhan budidaya dan diterapkan secara realistis oleh pengguna.

Dari sisi hilirisasi, Sukmawati mengatakan riset Arromang tidak diarahkan hanya untuk menghasilkan produk. Transfer teknologi kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan kelompok tani juga menjadi bagian dari orientasi pengembangan agar masyarakat dapat memproduksi pupuk secara mandiri dan membangun kegiatan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

“Saya berharap riset ini tidak berhenti di jurnal saja,” kata Sukmawati. Ia menambahkan, “Saya ingin Pupuk Arromang menjadi gerakan mencintai tanah secara berkelanjutan dan menjadi Produk Unggulan Daerah Sulawesi Selatan.”

Pengembangan Arromang juga memiliki dimensi ekonomi sirkular karena memanfaatkan biomassa dan limbah pertanian sebagai bahan bernilai tambah. UMPAR bersama PT Majjama Agro Industri mendorong pengembangan fasilitas produksi pupuk slow release sebagai jembatan antara hasil riset perguruan tinggi, kebutuhan industri, dan kebutuhan petani.

Dari aspek kekayaan intelektual, komposisi Pupuk Arromang telah memperoleh perlindungan paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Perlindungan tersebut menjadi salah satu fondasi dalam proses hilirisasi dan penguatan posisi teknologi menuju tahap komersialisasi.

Sementara itu, proses perizinan edar Pupuk Arromang untuk komersialisasi sedang berlangsung di Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi turut menopang pengembangan inovasi tersebut agar hasil penelitian dapat diarahkan menjadi produk yang digunakan lebih luas oleh sektor pertanian.

“Saya ingin Pupuk Arromang menjadi gerakan mencintai tanah secara berkelanjutan,” ujar Sukmawati. Pernyataan tersebut menegaskan arah pengembangan Arromang yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada pemanfaatan limbah, keberlanjutan tanah, peningkatan manfaat ekonomi, dan penguatan kapasitas petani.

Melalui Pupuk Arromang, UMPAR berupaya menghubungkan kegiatan riset dengan kebutuhan nyata di sektor pertanian. Pemanfaatan jerami, sekam padi, kotoran ternak, dan biomassa lainnya menjadi bahan bernilai tambah diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan inovasi pertanian sekaligus mengurangi limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber polusi.

Ke depan, pengembangan Arromang diarahkan untuk melanjutkan proses validasi, transfer teknologi, serta tahapan perizinan menuju komersialisasi. Melalui hilirisasi tersebut, UMPAR dan mitra industri menargetkan hasil riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat berkembang menjadi teknologi yang memberikan manfaat bagi tanah, petani, dan perekonomian daerah. (*)

 

 

Berita Terkait