Nasional

Tanggap Bencana, LPPM Unhan RI Serahkan Bantuan ke Korban Tanah Gerak Tegal  

TEGAL, PILARKITA.COM – Sebagai wujud kepedulian sosial terhadap korban tanah gerak/geser di Desa Padasari Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Pertahanan RI memberikan bantuan berupa bingkisan dan alat bantu jalan, di Huntara Tegal Jawa Tengah pada Kamis (23/4/2026).

Kehadiran Tim LPPM Unhan RI yang tanggap bencana mendapat sambutan dari masyarakat yang tinggal di Penghunian Sementara (Huntara).

Bingkisan sembako dalam kondisi seperti itu tentu sangat diharapkan masyarakat yang terdampak bencana. Kehadiran LPPM Unhan RI  di tengah masyarakat memberikan manfaat dan dampak positif yang sangat dirasakan.

Seperti yang disampaikan Sekretaris LPPM Unhan, Dr Sri Murtiana, SSos, MM.,CIT saat memberikan sambutan mewakili Kepala LPPM Unhan RI.

Sementara Kepala Desa  Padasari, Mashuri menyampaikan ucapan terimakasih banyak kehadiran Tim LPPM Unhan RI. Walau berada di Jakarta masih peduli dengan memberikan bingkisan sembako dan alat bantu jalan yang tentu sangat dibutuhkan masyarakat di Huntara.

Sekadar informasi, tanah gerak/geser yang terjadi di Desa Padasari Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, terjadi pada Selasa (2/2/2026). Desa Padasari terdiri dari lima dusun. Terdapat dua dusun yang terdampak tanah bergerak, yakni Padasari dan Padareka, sedangkan tiga dusun lainnya tak terimbas.

Hingga kini, ada 860 rumah yang terdampak, sebanyak hampir 700 rumah rusak berat. Bencana tanah bergerak terjadi dipicu hujan lebat. Awalnya, warga mendengar suara gemeretak pada bangunan rumah mereka yang kemudian retak-retak, sehingga tidak dapat ditempati karena membahayakan.

Dampak dari kejadian itu, lebih dari 2.400 warga mengungsi ke tempat penampungan darurat, sekira 700 rumah rusak , jalan retak, dan bangunan roboh.

Tanah gerak di Padasari  gerakannya pelan tapi luas, tidak seperti longsor tebing yang “bruk” sekali. Tanah gerak bisa geser 1-5 cm per hari selama berminggu-minggu. Rumah retak, miring, akhirnya ambruk kalau dibiarkan.

Selain itu, sulit balik.  Kalau zona sudah retak besar, biasanya masuk “zona merah” dan harus relokasi permanen. Artinya warga tidak cuma mengungsi 3 hari, tapi bisa berbulan-bulan.

Lalu rawan susulan: Musim hujan belum selesai. Retakan yang kemasukan air bikin geseran makin cepat. (*)

Berita Terkait