Catatan: Haerul Akbar
Saya ikut takziah di rumah Mungkar, teman seangkatan di SMA Negeri 277 Sinjai, pagi tadi. Ibu mertuanya, Hj. Suwaidah, meninggal dunia setelah sekitar empat bulan sakit. Dirawat dan meninggal di kediaman Mungkar di Baruttung, Lamatti Riaja, Bulupoddo, Sinjai. Dikebumikan di Kaccope, Bone.
Saya duduk di kursi deretan tengah di halaman rumah duka. Bersama teman letting lainnya di SMA: Kapten Sainuddin dan Syamsiah. Sementara Hj. Ratna Yacub — yang ke rumah duka barengan dengan saya — duduk di ruang tengah. Tempat jenasah disemayamkan.
Baru beberapa menit duduk dan siap-siap menyimak ceramah dari ustaz Burhanuddin, pimpinan salah satu pondok pesantren di Sinjai, tiba-tiba masuk pesan di whatsapp telepon seluler saya.
” Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’un. Meninggalki teman kita, sahabat kita, H. Mustafa Kufung. Jatuh dari sepeda tadi pagi. Info dari istrinya,” begitu pesan dari Mappiar, senior saya dulu di Harian Fajar Makassar.
Mustafa Kufung, adalah direktur utama Fajar Technos , salah satu anak perusahaan Jawa Pos yang berkantor di Graha Pena, Makassar. Sebelumnya, Mustafa adalah direktur utama Radar Sulbar, juga anak perusahaan Jawa Pos di Sulawesi Barat. Beberapa kali saya berkomunikasi dengan dia. Sharing soal perusahaan. Sekitar tahun 2018 – 2023. Saat itu, saya direktur utama salah satu grup Jawa Pos dan grup DisWay di wilayah Berau (Kaltim) dan Kalimantan Utara.
*
Kepergian dua sosok di waktu yang hampir sama itu pun sama-sama membawa duka mendalam bagi keluarga. Hanya saja, suasana batinnya yang agak berbeda. Mertua Mungkar sakit dan sempat dirawat oleh keluarga. Sekitar empat bulan.
Sedangkan Mustafa Kufung terlihat segar bugar sampai hembusan napas terakhirnya. Kata Faisal Syam, mantan pemimpin redaksi dan direktur Harian Fajar, dia dan Mustafa sama-sama salat Jumat di Masjid Nurul Iman, samping Graha Pena, Jl. Urip Sumoharjo, Makassar, kemarin.
“Usai Jumatan sempat bercanda dengan beberapa teman. Sorenya setelah salat asar, saya berpapasan lagi di basement Graha Pena. Dia tersenyum dan bergegas naik ke lantai 10,” tulis Faisal. Lantai 10 adalah kantor Fajar Technos , tempat Mustafa jadi direktur utama.
Pagi tadi, Mustafa keluar dari rumah dalam kondisi bugar. Pamit ke istri mau olahraga. Bersepeda seputaran kota Makassar. Berselang sekian waktu, sepedanya tiba-tiba oleng. Dia terjatuh. Meninggal di tepi jalan raya. Menghembuskan napas terakhir tanpa seorang pun keluarga di sampingnya. Diduga kena serangan jantung.
*
Menerima kabar duka di rumah duka, membuat saya tertegun. Apalagi memandangi foto jasad Mustafa yang terbaring kaku di rumahnya. Wajahnya yang hitam manis masih memancarkan aura humorisnya. Serasa mimpi ia telah berpulang.
Tapi, ustaz Burhanuddin segera mengetuk kesadaran. Ia mengutip salah satu ayat dalam Alqur’an: Innal-mautalladzi tafirruna min-hu fa innahu mulaqikum … (sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu…)
Saya memasukkan handphone di saku. Menyimak dengan baik ceramah itu. Di tengah suara beberapa perempuan yang memilih beriuh suara dibanding mendengar ceramah.
Tak ada perasaan ngedumel di hati, meski ceramahnya lumayan lama. Sekitar satu jam. Apalagi saat membahas soal salat. Seperti terselip sindiran kepada saya yang dulu bacaan salat begitu cepat. Lebih indah dan lebih tenang suara pembaca puisi.
Pun seperti menyindir gerakan salat saya dulu yang mungkin lebih cepat dari gerakan pesenam. Penghambaan yang kurang seirama dengan gerak lahir. (*)







