Opini

Di Balik Nilai Rapor, Peluk Dia Jangan Tunjuk

Oleh: Dr. Ahdar

(Dosen Pascasarjana IAIN Parepare)

Setiap akhir semester, lembar rapor menjadi dokumen yang paling dinanti sekaligus paling ditakuti oleh banyak anak. Bukan semata karena angka-angka di dalamnya, tetapi karena reaksi orang dewasa yang akan menyambutnya. Ada yang disambut dengan senyum dan pelukan, namun tak sedikit pula yang disambut dengan nada tinggi, perbandingan, bahkan kekecewaan yang dilontarkan tanpa jeda.

Rapor sering kali diperlakukan seolah-olah ia adalah cermin mutlak kecerdasan dan masa depan anak. Angka sembilan dipuja, angka enam dipermalukan. Padahal, rapor sejatinya hanyalah catatan administratif tentang capaian akademik pada rentang waktu tertentu, bukan ukuran utuh tentang nilai diri seorang anak.

Di balik angka-angka itu, ada cerita yang tak tertulis. Ada anak yang nilainya menurun karena sedang berjuang memahami pelajaran, ada yang terganggu secara emosional, ada pula yang sebenarnya memiliki potensi besar di luar ruang kelas di bidang seni, olahraga, kepemimpinan, atau empati sosial. Sayangnya, semua cerita itu sering kalah oleh satu baris angka berwarna hitam.

Tidak sedikit anak yang pulang membawa rapor dengan dada berdebar. Bukan karena ia malas belajar, tetapi karena takut mengecewakan orang tuanya. Ketika rapor berubah menjadi alat menghakimi, anak belajar satu hal yang berbahaya: bahwa ia dicintai hanya ketika berhasil.

Pada titik inilah, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa tujuan pendidikan? Jika pendidikan hanya dimaknai sebagai perlombaan angka, maka kita sedang menyiapkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara mental dan emosional.

Pelukan jauh lebih bermakna daripada telunjuk yang menunjuk kesalahan. Pelukan adalah bahasa penerimaan, sedangkan telunjuk sering kali menjadi simbol tekanan. Anak yang dipeluk saat gagal akan belajar tentang ketahanan dan keberanian. Anak yang ditunjuk dan dibandingkan akan belajar tentang rasa takut dan rendah diri.

Bukan berarti orang tua dan pendidik harus menutup mata terhadap prestasi akademik. Nilai tetap penting, tetapi ia bukan segalanya. Nilai seharusnya menjadi bahan dialog, bukan vonis. Menjadi pintu diskusi, bukan alasan untuk memarahi. Dari situlah anak belajar bahwa kegagalan bukan akhir segalanya, melainkan bagian dari proses bertumbuh.

Menyambut rapor dengan empati adalah bentuk pendidikan karakter yang paling nyata. Bertanya dengan tulus, “Bagian mana yang menurutmu sulit?” jauh lebih mendidik daripada bertanya, “Kenapa nilaimu turun?” Kalimat pertama membuka ruang refleksi, sementara kalimat kedua sering menutup kepercayaan diri.

Kita perlu menggeser paradigma: dari “anak harus berprestasi agar layak dibanggakan” menjadi “anak harus didukung agar berani berproses.” Pendidikan yang manusiawi bukanlah pendidikan yang menekan, melainkan yang menguatkan.

Di balik nilai rapor, ada hati yang sedang belajar memahami dunia. Maka ketika rapor itu tiba di tangan kita, peluklah dia. Jangan tunjuk. Karena anak yang merasa aman akan tumbuh lebih kuat daripada anak yang hanya dituntut untuk sempurna. (*)

Berita Terkait