Penulis: Alifia Ainun Rizky, M.Psi Psikolog
TAKALAR – Sebanyak 23 guru Bimbingan dan Konseling (BK) Kabupaten Takalar mengikuti pelatihan pengembangan kesejahteraan karier berbasis digital yang digelar di Aula SMPN 2 Kabupaten Takalar, Sabtu (8/8/2026).
Pelatihan bertajuk “Pelatihan Digital Model PERMA untuk Mengembangkan Career Wellbeing Guru BK di Pesisir Kabupaten Takalar” ini merupakan salah satu program pengabdian kepada masyarakat yang didanai melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Dana Hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Negeri Makassar (UNM) Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 Wita hingga selesai itu, diketuai dosen Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNM, M. Fiqri Syahril, MPd.
Ia didampingi dua anggota tim, yakni Inaya Ridhayanti Qarimah, MPd, dosen BK FIP UNM, dan Alifia Ainun Rizky, MPsi, Psikolog, dosen Administrasi Bisnis FIS-H UNM.
Ketua tim pengabdian, M. Fiqri Syahril, mengatakan, pelatihan ini digagas untuk menjawab persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian, yakni kesejahteraan psikologis guru BK itu sendiri.
Menurutnya, guru BK selama ini banyak berperan sebagai pendamping psikologis bagi siswa, namun jarang mendapat ruang untuk memperhatikan kesejahteraan dirinya sendiri.
“Guru BK punya peran besar dalam mendampingi siswa, tapi kesejahteraan psikologis mereka sendiri sering kali kurang diperhatikan. Makanya kami hadirkan model PERMA ini dengan pendekatan digital, supaya lebih mudah diterapkan dalam keseharian mereka,” ujar Fiqri.
Ia menambahkan, pemilihan lokasi di wilayah pesisir Kabupaten Takalar bukan tanpa alasan. Menurutnya, guru BK yang bertugas di daerah pesisir memiliki tantangan tersendiri, mulai dari akses yang lebih terbatas terhadap pelatihan pengembangan diri, beban kerja yang tinggi, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir yang turut memengaruhi dinamika psikologis siswa yang mereka dampingi.
“Kondisi di pesisir itu unik. Guru BK di sini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding di perkotaan. Makanya kami rasa penting untuk hadir langsung dan memberi bekal yang aplikatif bagi mereka,” katanya.
Sementara itu, anggota tim pengabdian, Inaya Ridhayanti Qarimah, menjelaskan lebih jauh mengenai konsep Model PERMA yang menjadi inti dari materi pelatihan.
Model ini terdiri dari lima elemen utama, yakni Positive Emotion (emosi positif), Engagement (keterlibatan), Relationship (relasi), Meaning (makna), dan Accomplishment (pencapaian).
“Kelima elemen dalam PERMA ini saling berkaitan dan menjadi fondasi seseorang untuk merasa sejahtera secara psikologis, termasuk dalam konteks karier. Kami kemas dalam bentuk digital, mulai dari modul interaktif hingga simulasi sederhana, agar guru BK bisa langsung mempraktikkannya,” jelas Inaya.
Ia berharap, melalui pendekatan digital ini, guru BK tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat mengaplikasikan model PERMA secara mandiri dalam keseharian mereka, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan pribadi.
Adapun Alifia Ainun Rizky yang berlatar belakang psikologi turut menyoroti pentingnya aspek relasi dan makna dalam pekerjaan sebagai faktor penentu kesejahteraan karier seorang guru BK.
“Elemen relationship dan meaning ini yang sering terlewat. Padahal, kalau guru BK merasa pekerjaannya bermakna dan punya relasi yang sehat dengan rekan kerja maupun siswa, itu akan sangat berpengaruh pada kesejahteraan psikologis mereka secara keseluruhan,” ujar Alifia.
Kegiatan pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Kabupaten Takalar, Harniati, S.Pd., M.Pd, setelah sebelumnya diawali dengan sambutan dari ketua tim pengabdian.
Dalam sambutannya, Harniati menyambut baik dan mengapresiasi kehadiran tim dosen UNM yang secara khusus menyasar wilayah pesisir Takalar. Ia berharap pelatihan semacam ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak guru BK di berbagai wilayah.
Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi inti oleh tim pengabdi secara bergantian. Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya pelatihan, terlihat dari aktifnya diskusi dan tanya jawab yang berlangsung di sela-sela pemaparan.
Untuk mencairkan suasana dan menjaga semangat peserta, panitia turut menghadirkan sesi icebreaking di sela-sela penyampaian materi. Sesi ini diisi dengan permainan interaktif ringan yang bertujuan agar peserta tidak jenuh dan lebih menikmati keseluruhan rangkaian pelatihan hingga usai. Suasana pelatihan pun terlihat cair dan penuh tawa saat sesi icebreaking berlangsung, sebelum kembali dilanjutkan dengan pendalaman materi Model PERMA secara lebih rinci.
Salah satu peserta, seorang guru BK dari salah satu sekolah di wilayah pesisir Takalar, mengaku terbantu dengan pelatihan ini. Menurutnya, materi yang disampaikan memberi perspektif baru dalam mengelola kesejahteraan diri sebagai tenaga pendidik, sesuatu yang menurutnya jarang ia dapatkan dalam pelatihan-pelatihan sebelumnya.
“Selama ini kami lebih banyak dibekali cara mendampingi siswa, jarang ada yang membahas soal kesejahteraan kami sendiri sebagai guru BK. Pelatihan ini membuka wawasan baru, apalagi dikemas secara digital jadi lebih mudah dipahami dan bisa langsung dipraktikkan,” ungkapnya.
Pelatihan ini turut menjadi ajang silaturahmi antara akademisi UNM dan para guru BK di lingkup Kabupaten Takalar, sekaligus membuka peluang kolaborasi lanjutan antara kampus dan sekolah-sekolah di wilayah pesisir.
Ketua tim pengabdian, M. Fiqri Syahril, berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi para guru BK yang hadir, tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga perubahan nyata dalam cara mereka mengelola kesejahteraan diri di tengah tuntutan profesi yang tidak ringan.
“Harapannya, ilmu yang didapat hari ini bisa terus dipraktikkan, bukan berhenti sampai pelatihan ini selesai. Kami juga terbuka untuk pendampingan lanjutan ke depannya,” pungkas Fiqri.
Pelatihan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma pengabdian kepada masyarakat, yang secara rutin dilaksanakan oleh dosen Universitas Negeri Makassar setiap tahun melalui skema pendanaan DPPM UNM. Program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak tenaga pendidik, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap program pengembangan diri. (*)







