Catatan: Haerul Akbar
Saya tengah perjalanan dari Kolaka ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Memasuki Wawotobi — salah satu kecamatan di Konawe — sekitar pukul 01:00 Wita dinihari tadi, saya buka whatsapp grup angkatan ’87 SMA 277 Sinjai.
Innalilahi Wainna Ilaihi Raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah Akmaluddin Nawir ……,” demikian cuplikan pesan bu Marwati Majid di grup tersebut. Disahut lebih lanjut oleh para alumni.
—
Berpulangnya Abba Udin — demikian sapaan akrab Akmaluddin Nawir — pun meninggalkan duka mendalam bagi alumni ’87 SMA 277 — yang kini bersalin nama menjadi SMA 1 Sinjai. Tak heran jika dari dinihari sampai siang tadi, ucapan duka dari alumni ’87 terus mengalir. Wahidah Suyuti, salah seorang alumnus ’87, bahkan datang khusus dari Kecamatan Sinjai Borong ke rumah duka di Kecamatan Sinjai Utara melayat. Jarak dari Borong ke Sinjai Utara sekitar 50 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.
“Saya sudah di rumah duka,” kata Wahidah seraya ngepost suasana pelayat di halaman samping jalur masuk rumah Abba.
—–
Abba memang bukan alumnus ’87 SMA 277. Tapi, dia sangat akrab dengan para alumni. Sering bergabung dalam beberapa kegiatan. Bahkan tak jarang bikin acara kumpul dan makan bareng. Atau menjadi salah satu sponsor kegiatan.
—–
Beberapa kali saya bareng Abba. Termasuk nyanyi di rumah bu Sri, juga alumnus ’87, di Jl. Halim Perdanakusuma — jalan menuju Pelabuhan Larea-rea. Bersama Kapten Sainuddin dan Hj. Ratna Yacub. Nyanyi didampingi bu Sri dan suaminya, yang sering kami sapa kak Pai.
“Saya suka improvisasi lagu pak Haerul. Penghayatannya oke,” kata Abba agak memuji setelah saya nyanyikan Biarkan Bulan Bicara– nya Broery Pesolima.
Saya tahu Abba dulu seorang penyanyi yang tergabung dalam salah satu kelompok band di Sinjai. Kalau dia memuji improvisasi saya, mungkin karena dua hal. Pertama, biar saya tambah lagu. Kedua, biar saya tidak cepat balik. Karena secara kemampuan vokal, tentu Abba lebih terolah.
Selain di rumah bu Sri, kami sering pula ngumpul di rumah Hj. Ratna Yacub — yang akrab kami sapa aji Anna — di Cemmeng. Teras rukonya sangat representatif untuk ngumpul. Menikmati sarabba atau teh manis panas seduhan sang pemilik ruko.
Di Cemmeng itulah, Abba paling sering mengeluarkan tabungan cerita lucu. Yang sekali keluar, bisa nyembur sarabba dari tenggorokan.
Abba terkadang bercerita dinamika masa-masa remajanya. Yang tak jarang membuatnya dikejar polisi. Dan, sungai di belakang rumahnya di seputaran Jl. Amanagappa (lebih dikenal dengan Jawa Baru) jadi penyelamat.
“Kalau polisi datang, saya lompat ke sungai. Berenang jauh, lalu sembunyi. Selamat lagi,” cerita dia. Cara penyampaiannya tak jarang mengundang tawa.
Belum lagi cerita soal temannya yang sering keliru istilah. Suatu ketika, kata Abba, temannya balik dari Jakarta. Lalu, bercerita tentang tempat nginap di ibukota negara itu.
“Saya nginap di departemen. Bagusnya itu departemen,” kata teman Abba.
Abba mengernyitkan kening. Dia curiga, temannya itu salah kata.
“Departemen itu bukan tempat nginap. Apartemen barangkali yang kau maksud,” kata Abba sambil tertawa.
“Oh, iya. Apartemen. Hahaha,” kata teman Abba itu. Lalu, ikut tertawa.
Cerita-cerita lucu bukan saja saat dia sehat. Saat kondisi sakit pun dia masih menghibur. Seperti saat saya, pak Burhanuddin Usman, Hj. Ratna Yacub, bu Marwati, Hj. Rusmiati, bu Nurlaela Fattah, Andi Dahniar Azis, dan bu Mega membesuknya pada 20 Juli lalu. Dua hari sebelum ke Makasar menjalani hemodialisis (cuci darah) di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Saat itu, Abba bercerita soal temannya yang datang membesuk.
“Dibuiski itu di rumah sakit kalau cuci darah?” tanya sang teman.
Abba yang semula mengernyitkan kening tanda bingung, kemudian tertawa kecil sambil berkata kepada temannya, “Dibius barangkali yang kau maksud.”
“Oh, iya, itumi. Dibius,” jawabnya. Kami yang mendengarnya pun tertawa.
Masih banyak cerita lucu Abba. Dia bisa mendeskripsikan cerita dengan gestur yang khas dan pas, sehingga cerita ringan itu membuat pendengarnya tertawa. Persis seperti Andi Ibrahim dan pak Abubakar. Dua alumni ’87 yang cerita-ceritanya juga sering membuat terpingkal.
Selamat jalan Akmaluddin “Abba” Nawir. Kebaikanmu akan terus kami kenang. Cerita-cerita lucumu akan jadi penyela saat kami berkumpul. Semoga Allah memberimu tempat terbaik. Aamiin.
Tunggala, Kendari, 4 Agustus 2026
Penulis adalah ketua umum Ikatan Alumni ’87 SMANsa 277 Sinjai.







