Opini

Transformasi Nilai Kepahlawanan dan Gender Equality dalam Pendidikan Islam Kontemporer

Oleh Dr. Ahdar, M.Pd.I
Kaprodi Magister Pendidikan Agama Islam IAIN Parepare

Kepahlawanan dalam Arus Zaman Baru

Setiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai refleksi atas pengorbanan dan semangat juang para pendiri bangsa. Namun di era modern, makna kepahlawanan tak lagi sekadar keberanian di medan perang, melainkan keberanian moral dan intelektual dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan  termasuk gender equality di ranah pendidikan Islam.

Nilai kepahlawanan kini menuntut manusia untuk berani berpihak pada kebenaran, menolak diskriminasi, dan memelihara martabat kemanusiaan. Dalam konteks pendidikan Islam, semangat ini sangat relevan. Pendidikan Islam sejatinya berakar pada nilai rahmatan lil ‘alamin nilai kasih universal yang menempatkan manusia sebagai makhluk merdeka dan bermartabat tanpa sekat gender, status sosial, atau etnis.

Kepahlawanan dan Keadilan Gender dalam Perspektif Islam

Kepahlawanan dalam Islam bukan hanya milik para pejuang di medan perang. Rasulullah SAW menegaskan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Pesan ini menegaskan bahwa menjadi pahlawan berarti berjuang melalui ilmu, akhlak, dan kebermanfaatan sosial.

Sayangnya, masih ada kesenjangan persepsi dan praktik gender di dunia pendidikan Islam. Di beberapa lembaga, perempuan masih ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pelaku utama dalam kepemimpinan namun, akan tetapi di beberapa Lembaga juga  sudah ada yang memposisikan Perempuan setara Dengan kaum laki laki, karena dalam sejarah Islam mencatat banyak figur perempuan tangguh: Khadijah RA, Aisyah RA, dan Nusaibah binti Ka’ab semuanya menjadi pelopor dalam perjuangan spiritual dan intelektual umat.

Kesetaraan gender dalam pendidikan Islam sejatinya bukan gagasan Barat, melainkan cerminan dari keadilan ilahiah yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 13, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh integritas moral dan ketakwaan.

Mentransformasikan Nilai Kepahlawanan di Dunia Pendidikan

Nilai-nilai kepahlawanan dapat dihidupkan kembali melalui transformasi pendidikan Islam yang berpihak pada keadilan dan kesetaraan. Ada tiga langkah penting untuk mewujudkannya.

Pertama, menginternalisasi nilai-nilai keadilan, keberanian, dan empati ke dalam kurikulum pendidikan Islam. Peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, empatik, dan tangguh agar menjadi pahlawan moral di tengah arus globalisasi nilai.

Kedua, membangun pendekatan pedagogis yang inklusif gender. Guru dan dosen harus memberi ruang yang sama bagi laki-laki maupun perempuan untuk tampil sebagai pemimpin, peneliti, dan inovator. Pendidikan tidak boleh memenjarakan potensi berdasarkan stereotip gender.

Ketiga, teladan moral para pendidik menjadi pilar utama. Guru yang jujur, dosen yang berintegritas, dan pemimpin pendidikan yang berpihak pada kebenaran adalah wajah kepahlawanan sejati di era pengetahuan ini.

Pendidikan Islam dan Agenda Emansipatif

Pendidikan Islam masa kini tak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga membebaskan manusia dari kebodohan, ketertinggalan, dan ketidakadilan struktural. Di sinilah konsep pendidikan emansipatif menemukan relevansinya. Perempuan dan laki-laki harus diberdayakan sebagai subjek perubahan sosial, bukan sekadar objek kebijakan.

Ketika perempuan diberi kesempatan setara dalam pendidikan dan kepemimpinan, maka sejatinya bangsa sedang menanam benih peradaban yang berkeadilan. Pendidikan Islam yang progresif perlu menegakkan nilai ta’dib (pembentukan adab) dan tahrir (pembebasan). Dua nilai ini merupakan wujud modern dari semangat kepahlawanan — keberanian untuk memerdekakan manusia dari segala bentuk ketertindasan, termasuk bias gender.

Menjadi Pahlawan di Era Pengetahuan

Menjadi pahlawan di era digital bukan berarti mengangkat senjata, melainkan mengangkat moral dan pengetahuan. Guru yang sabar membimbing muridnya di pelosok negeri, dosen yang meneliti dengan kejujuran, santri yang berjuang melawan ketidaktahuan  semuanya adalah pahlawan zaman kini.

Nilai kepahlawanan dan kesetaraan gender harus menjadi roh pendidikan Islam modern. Karena tanpa keadilan, tidak ada kemanusiaan; dan tanpa kemanusiaan, tidak ada pendidikan yang sejati. Pendidikan Islam perlu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berani menegakkan keadilan dan menghormati kemanusiaan tanpa batas gender.

Transformasi nilai kepahlawanan dalam pendidikan Islam kontemporer bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral. Menegakkan kesetaraan gender, keadilan sosial, dan integritas akademik adalah bentuk jihad intelektual yang tak kalah mulia dari perjuangan fisik para pahlawan terdahulu.

Di tengah tantangan zaman, mari kita menjadi pahlawan dengan ilmu, iman, dan kasih sayang. Sebab, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Maka, memperjuangkan keadilan dan kesetaraan adalah ibadah, dan di sanalah letak kepahlawanan sejati. (*)

Berita Terkait