Opini

Challenge Hamdan

Catatan : Haerul Akbar

“Papa, gimana caranya menulis seperti itu?”

Pertanyaan itu dari Muhammad Hamdan Haerul, anak bungsu saya. Ia merespons tulisan berjudul: Tugu Kendari, Jelarai, dan Rektor Unmul yang saya buat dan dimuat di media pilarkita.com serta ter- share ke beberapa grup whatsapp.

“Menulislah, nak. Tidak ada cara lain menjadi penulis kecuali dengan menulis,” jawab saya.

Kepada dia saya sampaikan bahwa, menulis itu ibarat orang yang pengin mahir bersepeda. Tidak ada cara lain, kecuali dengan naik sepeda. Mungkin awalnya cuma pegang setang, dituntun, dan perlahan dikayuh.

Orang yang mulai belajar bersepeda pastilah menghadapi rintangan. Bisa jadi jatuh dan lecet. Bahkan, nabrak tiang listrik. Atau jatuh ke selokan. Tapi, begitu mahir, tanpa pegang setang pun sepeda bisa dikendarai.

Hamdan merespons balik dan menambahkan kalimat ini: ibaratkan tanjakan, kelihatan berat kalo belum dilewatin, tapi akan terasa ringan jika sudah sampe di puncak. Dia menutup dengan emoji ketawa.

Saya senang dengan kalimat itu. Sepertinya, dia akan mencoba. Maka, saya balas dengan kalimat singkat: Mulailah, nak!

Dia balas pula. Tapi, bukan dengan kata “Siap.” Dia malah menulis begini: Maka mulailah menulis apa yang Hamdan tugaskan ke papa, agar semua terasa ringan. Juga diakhiri dengan emoji ketawa. Alamak.

Sebelumnya, dia memang menantang saya. Challenge yang mirip-mirip perintah. Hehe. Agar saya menulis tentang dirinya.

“Hamdan mau kasih challenge , coba papa deskripsikan Hamdan secara detail dengan gaya tulisan begini,” begitu isi whatsapp-nya. Maksud dia, saya buat tulisan seperti model yang saya share itu.

———

Hamdan saat ini kuliah di jurusan hubungan internasional Universitas Bakrie, Jakarta. Ngejalani semester tiga. Dia termasuk di antara 33 penerima beasiswa full dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim yang bekerjasama dengan kampus milik keluarga konglomerat Bakrie itu. Salah seorang di antara keluarga itu, anda sudah tahu: Aburizal Bakrie.

Sebenarnya, saya ingin dia masuk perguruan tinggi khusus pariwisata. Selain masih nyambung dengan jurusan perhotelan di SMK-nya, dunia pariwisata juga memiliki gambaran masa depan yang masih baik. Apalagi, bahasa Inggris-nya lumayan oke. Dan, beberapa kali dia mengikuti event di luar negeri.

Tapi, dia memilih jurusan hubungan internasional. Tanpa sepengetahuan saya. Dia baru menyampaikan ketika Pemprov Kaltim mengumumkan siswa yang lulus sebagai penerima beasiswa full kerjasama dengan Universitas Bakrie itu. Pendaftaran dibuka untuk seluruh SMA-SMK se-Kaltim. Namun, hanya 33 yang lolos. Bisa jadi sertifikat kegiatan di luar negeri itu menjadi pertimbangan Hamdan lolos.

——–

Hamdan —- yang lahir di Samarinda pada 27 Januari 2007 itu —— kini ngekost di Jakarta. Bersama seorang temannya dari Kaltim. Juga penerima beasiswa full dari Pemprov Kaltim. Namanya Praditya Ramadhani Junaedi Putra. Sapaan akrabnya: Rio. Kebetulan sudah berteman dengan Hamdan sejak SMP. Mereka satu tempat kost, tapi kamar tersendiri.

Selain berkomunikasi via WhatsApp, saya mengikuti kegiatan Hamdan di Jakarta melalui media sosial: instagram. Termasuk saat berdiskusi dengan Mr. Antoine Bricout, dosen tamu dari Rusia. Menggunakan bahasa Inggris yang lumayan oke.

Selain event kampus yang lumayan padat, Hamdan juga jadi brand ambassador salah satu bank BUMN di Jakarta. Sistem kontrak. Dia tak mau menyebut nilai rupiah dari kontraknya itu.

“Pokoknya adalah, papa. Tapi, yang lebih penting dari itu adalah pengalaman,” ujarnya.

Saya sering mengingatkan bahwa, dia itu penerima beasiswa yang dievaluasi setiap semester. Ada target indeks prestasi yang harus dicapai. Sebagai syarat kelanjutan beasiswa.

Aktif di organisasi kampus itu, pesan saya, boleh. Bahkan sangat boleh. Sepanjang bisa memahami posisi sebagai penerima beasiswa.

Ijasah nanti akan menjadi penanda akhir pemenuhan target itu di kampus. Ijasah itu pun kelak akan jadi syarat administratif jika pengin bekerja di lembaga pemerintah atau swasta.

Setelah masuk ke dunia kerja, pengalaman ekstra-kampus itu lebih banyak berperan. Karena, seperti kata Rocky Gerung: ijasah itu tanda pernah sekolah. Bukan tanda pernah berpikir. (*)

Berita Terkait