Opini

Tugu Kendari, Jelarai, dan Rektor Unmul

 

Catatan : Haerul Akbar

MASIH di Kota Kendari. Ahad (9/8) lalu, saya joging dari Jalan Tunggala ke tugu MTQ di Jalan Abdullah Silondae. Berjarak sekitar 6 km. Start pukul 06:05 Wita, tiba pukul 07:40 Wita.

Tugu MTQ itu jadi ikon Kota Kendari. Dibangun di tengah kawasan seluas sekitar 5 hektare sebagai tempat perhelatan musabaqah tilawatil quran (MTQ) tingkat nasional pada 2006. Kini menjadi ruang terbuka publik dan jadi favorit warga untuk joging.

Berjalan sejauh 6 km, bagi saya, lumayan melelahkan. Karenanya, setelah sarapan lontong pecel di dalam kawasan tugu itu, saya bergeser ke tepi jalan. Maksud hati balik ke penginapan. Istirahat.

“Komandan Haerul…..”

Saya penasaran. Ini kali pertama saya ke Kendari. Dan, baru 4 hari di kota bersemboyan “Bertaqwa” ini. Kok, ada yang memanggil jelas namaku? Pakai komandan pula. Hehe.

Saya menoleh. Seorang pria bertopi hitam dan berkaca mata hitam berdiri di samping saya. “Hei, bosku. MasyaAllah.” Saya menyambut dan menjabat tangan pria itu.

Dia adalah Munsir Salam. Kami pernah sama-sama jadi pimpinan di Komisi Penyiaran Indonesia dan pimpinan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Tapi, beda provinsi. Saya di Kalimantan Timur, dia di Sulawesi Tenggara.

Sembilan tahun kami tak jumpa. Sembilan tahun lost contact . Dan, di depan tugu itu kami bertemu.

Kami berbincang beberapa saat. Lalu, berpisah. Munsir melanjutkan joging. Saya pamit balik ke penginapan. Tapi, kami sepakat ngopi bareng sore hari. Alhamdulillah, terwujud. Bahkan, lanjut santap malam bersama.

Di tempat ngopi dan santap malam itu, saya membatin. Pantas hati saya tadi tergerak mau balik. Seandainya masih duduk di kursi penjual pecel, mungkin saya tak bertemu Munsir.

Siapa yang menggerakkan hati saya bergeser tempat? Siapa yang menggerakkan hati Munsir melewati jalan di samping tugu itu?

——–

Saya jadi ingat perjalanan darat dari Berau, Kalimantan Timur, ke Tanjung Selor, ibukota Kalimantan Utara, beberapa tahun silam. Berdua dengan Indra “Ableh,” manajer salah satu perusahaan di Berau. Saya direktur di perusahaan itu.

Ketika melintasi jembatan Jelarai, Tanjung Selor, saya bertanya ke Indra. Apakah, sebelumnya dia pernah bermimpi — paling tidak membayangkanlah — akan satu mobil dengan saya dari Berau ke Tanjung Selor dan melintasi jembatan itu?

Indra menjawab, “Tidak pernah, pak.” Perbincangan kami akhirnya nyenggol ke soal rahasia dan hikmah perjalanan hidup.

Di depan Munsir, saya pun teringat perbincangan dengan Rektor Universitas Mulawarman (Unmul), Prof. Dr. Ir. H. Achmad Ariffien Bratawinata, M.Agr di ruang kerjanya. Tahun 2008.

Saat itu, saya dan Prof. Ariffien sama-sama menjadi tim seleksi KPU Kaltim. Di sela bincang itu, tiba-tiba dia tanya usia saya.

“Tiga puluh tujuh, prof,” jawab saya.

“Waduh, sayang sekali,” ujarnya.

Saya mengernyitkan dahi tanda tak paham. Lalu, saya tanya, “Kenapa, prof?”

“Kalau masih tiga lima, saya perjuangkan jadi dosen di Unmul,” jawabnya.

Saya tersenyum. “Kalau mau jadi dosen, sejak tahun sembilan puluh enam saya sudah di Unhas, prof.”

“Kenapa gak jadi dosen di Unhas?”

Saya jawab sekenanya saja. “Kalau saya dosen di Unhas, kita tidak bertemu di sini dan tidak pula sama-sama jadi tim seleksi KPU Kaltim.”

“Hehe. Oh, iya, ya,” kata Ariffien. Kami tertawa.

Ariffien menjabat sebagai Rektor Unmul 2006-2010. Ia wafat pada 2019 di tanah kelahirannya, Sukabumi, Jawa Barat, dalam usia 73 tahun.

——–

Masih banyak yang bisa ditulis. Tapi, cukuplah bincang dengan Rektor Unmul pada 2008 itu, cukuplah perjalanan saya ke Tanjung Selor bersama Indra itu, cukuplah pertemuan saya dengan Munsir di tugu MTQ Kendari itu sebagai bahan renungan.

Begitulah hidup. Ia punya roda. Yang kadang berputar ke satu titik yang tidak direncanakan. Bahwa ilmu, bahwa pengetahuan, tak selalu bisa menjangkau dan menentukan titik tepat setiap tapakan.

Kita hanya bisa merancang titik-titik tapakan. Bahwa, segala hal akan terjadi pada waktu yang paling pas. Bahwa, Allah itu khairul mudabbirin. (*)

Berita Terkait