Catatan : Haerul Akbar
Saya salat Jumat di Masjid Jami Mujahidin, Jl. Tunggala, Kelurahan Anawai, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari, kemarin. Ini adalah kali pertama saya salat Jumat di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara.
Masjid itu lumayan luas. Ada 12 air conditioner (AC) dan 6 kipas angin terpasang di dinding. Lantainya berkeramik putih. Ada 13 saf di bagian dalam. Setiap batas saf diberi tanda keramik merah. Satu saf diisi 22 orang. Saya jadi makmum di saf ke-8.
—–
Saya tidak tahu nama khatib yang khotbah di masjid itu, kemarin. Yang pasti saya angkat jempol dengan khotbahnya. Intonasinya jelas dan tertata, tuturannya runtut meski tanpa teks.
Khatib itu membahas soal kematian. Membuat saya teringat beberapa kawan yang dalam sepekan terakhir meninggal dunia. Ada Leo Priyanto Wardiana di Makassar, Akmaluddin Nawir (Abba Udin) di Sinjai, dan Ruslan di Gowa. Waktunya sangat berdekatan.
” Kullu nafsin dzaiqatul-maut,” kata sang khatib dari mimbar. Orang Islam tentu tahu artinya. Bahwa, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Karena sudah pasti, kata khatib, tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya.
“Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu,” tandasnya mengutip terjemahan Surah Al-Jumu’ah 8.
Karena itu, lanjut dia, tidak perlu mencari mati. Karena tanpa dicari pun, jika sudah waktunya, kematian akan menghampiri.
“Bersiap dirilah sebelum kematian datang. Perbaiki salat, rajinlah bersedekah,” pesannya.
Namun, ia tidak sekadar membahas kematian. Ia pun bicara soal kehidupan. Mungkin, biar imbang dua sisi.
Allah, sebutnya, menghidupkan manusia disertai hak bebas. Tapi, dengan tuntunan. Mau gunakan kebebasan untuk ke neraka atau mau ke surga, itu pilihan.
Bukan cuma itu. Kata khatib itu, kaya dan miskin juga adalah pilihan hidup.
Khatib itu seakan mengingatkan kita kepada perjuangan Nelson Mandela, presiden Afrika Selatan 1994-1999. Mandela merasakan kemiskinan, bahkan perbudakan sejak lahir. Ia bangkit. Ia berjuang. Melawan. Meski berujung penjara, ia tidak menyerah. Ia terus berjuang.
Mandela akhirnya menjadi presiden pertama dari kulit hitam di negara itu. Sekaligus menghapus diskriminasi rasial bernama apartheid Perjuangannya tercatat baik dalam sejarah.
Bagi Mandela, perbudakan dan kemiskinan bukanlah hal yang alami. Itu adalah buatan manusia dan dapat diatasi serta diberantas melalui tindakan manusia. Pilihannya: mau atau tidak.
Kata Mandela: “It always seems impossible until it’s done.” Selalu tampak mustahil sampai hal itu selesai.
Mungkin sang khatib tadi terinspirasi oleh Mandela, sampai menutup khutbahnya dengan kalimat begini:
“Jika kamu terlahir dari orangtua miskin, itu nasib. Tapi, mati dalam keadaan miskin itu pilihan yang perlu disesali.” (*)
Kendari, 8 Agustus 2026







