Opini

Leo, Surat di Karebosi Itu…..

Catatan: Haerul Akbar

 …..Telah berpulang ke Rahmatullah Sabtu, 1 Agustus 2026 sahabat kita “Leo Priyanto Wardiana” (mantan ketua Kosmik)……

Adalah Haidir Putra Siagian yang ngepost informasi itu di grup whatsapp alumni Universitas Hasanuddin. Haidir alumnus “kampus merah” itu. Ia kini dosen di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dan telah mencapai gelar akademik tertinggi: Ph.D (doctor of philosophy)  atau philosophiae doctor .

Saya merespons kabar duka itu tak sekadar ucapan innalillahi wainnailaihi raji’un. Rasa haru juga hadir menyertai berbaliknya ingatan saya ke tahun 1996.

Tahun itu — bulannya lupa —, saya lagi duduk bersila di atas rumput lapangan Karebosi. Menyaksikan beberapa orang latihan memanjat di wall climbing . Seorang pria berkulit agak hitam menghampiri saya. Ia adalah Leo Priyanto Wardiana. Ketua Kosmik (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi) Universitas Hasanuddin. Sebelumnya bernama Komapu (Korps Mahasiswa Publisistik). Perubahan nama itu seiring bersalinnya jurusan publisistik menjadi jurusan Ilmu Komunikasi.

Setelah kami berjabat tangan, ia melanjutkan, “Ini ada surat dari ketua jurusan. Saya dipesan agar menyerahkan langsung ke kita, kak,” ujarnya.

“Oh, iya dek. Terima kasih.” Tangan kiri saya menepuk tipis punggung tangan kanannya yang masih berjabat dengan tangan saya.

Tak banyak kata tambahan. Leo pamit. Kembali bergabung dengan beberapa temannya yang juga lesehan beralas rumput di lapangan yang doeloe sering jadi tempat latihan sepak bola pemain PSM pada sore hari dan jadi markas “waria” pada malam hari itu.

Amplop surat saya buka. Isinya:  peringatan! Ditandatangani ketua jurusan Ilmu Komunikasi. Saya lupa siapa ketua jurusan saat itu. Yang jelas, surat itu berisi perintah agar segera menyelesaikan kuliah. Diberi batas waktu. Akhir 1996 harus kelar. Mepet banget.

Ternyata sudah lumayan lama saya kuliah. Masuk Unhas jurusan Ilmu Komunikasi tahun 1988. Tapi, 1996 belum juga kelar. Sayang memang. Mata kuliah lain sudah rampung pada 1992. Tinggal kuliah kerja nyata (KKN) dan skripsi yang tersisa.

—-

Bukan tanpa sebab sampai kuliah terbengkalai. Saya membagi waktu dengan bekerja. Tapi, pembagiannya tidak imbang. Berat satu sisi.

Tahun 1991 — ketika kuliah memasuki  semester 6 — saya bergabung di Harian Fajar. Sebagai jurnalis. Pekerjaan yang sebenarnya adalah praktik dari pelajaran di kampus. Di jurusan ilmu komunikasi, saya ambil program studi jurnalistik. Dan, saya bekerja sebagai jurnalis.

Dua tahun kemudian, saya dapat tugas memimpin tim untuk mengelola surat kabar harian pertama yang didirikan Jawa Pos di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Satu tahun saya di provinsi bermoto Iseng Mulang itu. Moto yang bermakna: pantang menyerah. Pantang mundur.

Dari Palangkaraya, saya ditugaskan lagi ke Jakarta. Bergabung  dengan awak Jawa Pos yang bermarkas di Jalan Prapanca Raya, Jakarta Selatan.

Balik ke Makassar, fokus lagi ke pekerjaan. KKN dan skripsi pun mandek. Sampai akhirnya, surat peringatan itu datang.

Surat yang kuterima melalui Leo itu memaksa saya pada pilihan: selesaikan seluruh proses kuliah atau dropout . Saya memilih untuk tidak dropout

Andai saja Tuhan tidak mempertemukan saya dengan Leo di lapangan Karebosi sore itu, hampir pasti saya tidak bisa ikut KKN di periode tersebut. Karena ketika saya ke kampus keesokan harinya, ternyata hari itu adalah hari terakhir pendaftaran KKN.

Pun, jika saja saya tidak ikut KKN di periode itu, bisa jadi membuat saya dropout . Tidak berstatus alumnus Unhas.

Selamat jalan adinda Leo Priyanto Wardiana. Doa terbaik untukmu..

( Haerul Akbar, jurnalis, mantan pimpinan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kaltim dan mantan pimpinan Bawaslu Kaltim)

Berita Terkait