Daerah

Dari Tanah Suci ke Bantaeng

Silaturahmi ’87 SMANSA 277 Sinjai

 Catatan: Haerul Akbar

(Ketua Umum Ikatan Alumni 87 SMANSA 277 Sinjai )

 

GEMBIRA berselimut haru mewarnai sambutan saya di kegiatan silaturahmi angkatan 87 SMA Negeri 277 (sekarang SMA 1) Sinjai di Hotel Ahriani, Bantaeng, Sabtu (11/7) malam lalu.

Bagaimana tidak.  Usia teman-teman alumni  sudah di kisaran 57-59 tahun. Tapi, semangat mereka hadir di acara itu makin menyala. Mereka masih sangat fit. Sangat bugar di usia yang sudah di gerbang lansia.

Beragam kisah teruntai. Ada dari pak Hermansyah, dosen UMSI Sinjai. Doktor di bidang ilmu komunikasi ini menyebut angkatan ’87 sejak dulu memiliki ikatan emosional yang kuat. Dan, terus dijaga dan dipupuk dalam berbagai aktivitas. Seperti arisan dan kegiatan sosial lainnya.

Hermansyah, MRd. Salah seorang di antara tiga doktor di alumni ’87

Ada pula dari pak Abd. Azis, kepala salah satu SMA di Maros. Ia secara khusus menyebut pak Muhannis sebagai sosok yang tidak saja menjadi guru di SMA, tapi juga terus membimbingnya saat dirinya sudah menjadi guru.

“Alhamdulillah, atas dorongan pak Muhannis, saya bisa belajar ke Jerman selama dua bulan,” ujarnya.

Abdul Azis. Dua bulan berguruke Jerman

Hj. Rahmania Ali — yang didaulat berbagi kisah mewakili alumni perempuan — menutupnya dengan ajakan berdoa khusus untuk teman alumni yang telah meninggal dunia.

HJ. RAHMANIA ALI: Doa khusus untuk alumnus yang telah meninggal dunia

Ketua panitia, Kapten Sainuddin — yang juga Danramil Sinjai Utara — mengapresiasi semangat silaturahmi para alumni ’87 itu. “Alhamdulillah kita bisa berkumpul di sini dalam kondisi sehat dan bugar. Terima kasih semuanya,” ujar Sainuddin.

Kapten Sainuddin. Salah seorang di antara dua alumnus ’87 yang berkarier di militer

Memang, tak semua alumni hadir. Meski yang mengisi list  82 orang, namun pada hari “H” beberapa di antaranya tidak sempat bergabung karena berbagai sebab. Antara lain, mengantar anak kuliah di Makassar atau  tiba-tiba ikut kegiatan organisasi yang tidak bisa diwakilkan.

Di deretan gazebo Ahriani itu, cerita-cerita lucu masa SMA kembali diungkit. Bahkan berlanjut sampai masa kuliah.

Bantaeng dipilih sebagai titik kumpul. Titik tengah antara mereka yang bermukim di Makassar dengan yang bermukim di Sinjai. Meski ada juga yang justru melintasi Makassar. Seperti pak Abd. Azis. Ia harus melintasi Makassar ketika menuju Bantaeng. Karena mukimnya di Maros.

Ada pula Andi Fachri yang datang bersama istri dari Balikpapan, Kaltim. Kedatangannya kali ini bermakna lebih.  Selain rajutan silaturahmi, Andi Fachri juga juara I lomba nyanyi berpasangan.

DATANG DARI BALIKPAPAN: Andi Fachri (kanan) dan istri. Juara I lomba nyanyi berpasangan

Andi Syaifuddin — yang akrab kami sapa Andi Aco — pun datang khusus dari Parepare. Bukan sekadar silaturahmi biasa. Tapi, sekalian menantang jawara domino ’87. Sayang, Andi Aco yang berpasangan dengan Haji Tajuddin Nur, gugur di penyisihan. Hehe. Juaranya adalah pasangan pak Aspar Nurdin dan pak Burhanuddin Usman.

BELUM JUARA: Andi “Aco” Syaifuddin. Dari Parepare menantang domino

Saya sendiri tengah berada di Samarinda ketika persiapan acara. Rencananya, dari Samarinda saya ke Kendari, baru ke Bantaeng. Tapi, dengan pertimbangan tertentu saya memutuskan dari Samarinda langsung ke acara milad. Lalu, Kendari. InsyaAllah, pekan depan.

Paling bersemangat dari semua yang bersemangat adalah Haji Tajuddin Nur. Pengajar di salah satu SMA di Gowa ini baru tiba dari Tanah Suci. Dari  umrah. Belum sempat nginap di rumahnya di Sungguminasa, langsung menuju Bantaeng. Sang istri sempat  agak protes. “Apami itu, baru tiba di rumah, langsung berangkat lagi.” Hehe.

Haji Taju — begitu sapaan akrabnya — memang termasuk yang rutin merajut silaturahmi sesama alumni. Tak pernah sekalipun terlewatkan momen reuni, yang kami bingkai sebagai milad. Berkumpul setiap tahun di bulan Juli. Bulan terbentuknya ikatan Alumni Angkatan 87 SMA 277 Sinjai. Tahun ini adalah milad ke-10.

H. TAJUDDIN NUR: Jeddah-Makassar-Bantaeng

Setelah “tudang sipulung ” di Hotel Ahriani pada malam hari,   pagi keesokan harinya menuju ke lapangan dekat Pantai Seruni. Sekitar 200 meter dari Hotel Ahriani. Bergabung dengan ratusan warga Bantaeng untuk senam.

Instruktur senam beberapa kali mengenalkan para alumni 87 ini ke peserta senam. Bahkan dua alumnus 87: Hj. Ratna Yacub dan Hj. Rusmiati ikut  memandu. Heboh. Penuh ceria.

Kebersamaan kami tutup dengan makan siang bersama di tribune lapangan  Seruni. Dengan menu khusus: sop kepala ikan. Menu yang benar-benar maknyus. Sampai-sampai ketua harian ikatan alumni 87, pak Aspar Nurdin, berseloroh: tinggal tulang yang tersisa. Hehe.

 

Di hotel Ahriani kami berpisah. Dua arah: Sinjai dan Makassar.

Sebelum beranjak, Haji Bohari — yang termasuk banyak mengatur lalulintas kegiatan ini — memeluk saya dan berkata, “Maafkan saya jika ada salah, jika ada dosa, pak ketua.”

Saya melihat mata Haji Bohari berkaca-kaca. Saya membalasnya dengan kalimat, “InsyaAllah, silaturahmi ini telah menggugurkan dosa di antara kita. InsyaAllah, semua alumni telah saling memaafkan.”

Jaa ne sinyuu . Sampai jumpa, para sahabat. (*)

Berita Terkait