Kota Parepare

Tasming Hamid Temui Guru SD dan SMA di Parepare

PAREPARE, PLARKITA.COM Usai memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Lapangan Andi Makkasau, Wali Kota Parepare, Tasming Hamid melanjutkan silaturahmi sekaligus makan siang bersama para guru yang pernah mengajarnya sejak bangku SD, SMP, hingga SMA di Auditorium BJ Habibie, kompleks rumah jabatan Wali Kota Parepare, Selasa (12/5/2026).

Tidak ada panggung megah maupun protokoler yang kaku dalam pertemuan itu. Suasana justru dipenuhi percakapan hangat, nostalgia, dan tawa kecil yang lahir dari cerita masa sekolah yang kembali dikenang.

Para guru duduk bersama Tasming Hamid di meja bundar tanpa sekat. Momentum tersebut menghadirkan gambaran sederhana tentang hubungan guru dan murid yang tetap terjaga meski waktu terus berjalan.

Di tengah peringatan Hardiknas yang identik dengan pidato formal, langkah Tasming Hamid menghadirkan pesan berbeda. Ia menunjukkan bahwa penghormatan kepada guru tidak cukup hanya lewat ucapan, tetapi juga melalui kedekatan emosional dan penghargaan yang tulus.

“Setelah upacara Hardiknas tadi, saya merasa ada yang belum lengkap kalau belum bertemu dan bersilaturahmi dengan guru-guru saya. Sebab apa pun pencapaian seseorang hari ini, pasti ada jasa guru di belakangnya,” ujar Tasming Hamid.

Tasming menilai guru memiliki peran besar dalam membangun fondasi moral generasi muda. Menurutnya, nilai disiplin, adab, dan penghormatan terhadap sesama justru menjadi pelajaran paling penting yang sering kali tidak tertulis di buku sekolah.

“Saya berdiri di sini hari ini karena doa dan ketulusan guru-guru saya. Mereka bukan hanya mengajar membaca dan berhitung, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang menghargai sesama,” katanya.

Momentum tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa posisi guru tetap tidak tergantikan di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi pendidikan.

Di era digital saat ini, proses belajar memang semakin modern. Namun, Tasming Hamid menegaskan bahwa sentuhan manusia dalam pendidikan tetap menjadi inti yang tidak bisa digantikan mesin maupun teknologi.

“Setinggi apa pun jabatan seseorang, ia tetaplah murid dari guru-gurunya. Karena itu, menghormati guru bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari nilai kehidupan yang harus terus dijaga,” tambahnya.

Pernyataan tersebut relevan dengan tantangan pendidikan nasional saat ini. Di satu sisi, pemerintah mendorong transformasi pendidikan berbasis teknologi. Namun di sisi lain, penghormatan terhadap profesi guru dinilai harus tetap menjadi prioritas sosial. (*)

Berita Terkait