BOGOR – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Unmanned Aerial Vehicle (UAV) High Altitude Long Endurance (HALE) pada Selasa (20/10/2026), Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Lantai 1 Auditorium Kampus Universitas Pertahanan RI, Sentul, Kabupaten Bogor.
FGD ini menjadi forum strategis untuk mempertemukan unsur pemerintah, TNI, industri pertahanan, dan perguruan tinggi dalam membahas arah pengembangan riset serta potensi penguasaan teknologi UAV HALE secara mandiri.
Kegiatan itu sekaligus menjadi wadah untuk membangun kesamaan perspektif, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta mengidentifikasi peluang sinergi dalam pengembangan teknologi penerbangan tanpa awak untuk mendukung kepentingan pertahanan nasional.
FGD dibuka Kepala LPPM Unhan RI, Marsekal Muda TNI Dr Penny Radjendra, ST, MSc. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara lembaga penelitian, satuan operasional TNI, industri pertahanan, dan perguruan tinggi untuk menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan nyata pertahanan negara.
Salah satu pokok penting yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah inisiatif Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB) dalam pengembangan riset UAV HALE secara mandiri.
Inisiatif tersebut menjadi peluang strategis untuk memperkuat kapasitas nasional dalam penguasaan teknologi pesawat tanpa awak berdaya jelajah dan ketahanan terbang tinggi.
Pengembangan riset UAV HALE ini mengusung filosofi utama “Optimum Energy Usage”, yang Memadukan Efisiensi Aerodinamika Tinggi, Struktur Komposit Berbobot Ringan, Sistem Daya Listrik Hibrid (Baterai Dan Panel Surya), Serta Sistem Kendali Terbang Optimal.
Riset Uav Hale yang dilakukan ITB membuktikan bahwa kapabilitas akademis nasional telah menguasai fondasi konseptual, desain aerostruktur, serta analisis numerik penerbangan berteknologi tinggi.
Namun, untuk membawa prototipe akademis ini menjadi alutsista siap pakai dan tepat guna terdapat beberapa tantangan strategis yang membutuhkan sinergi lintas sektor.
Narasumber Akademisi, Industri Pertahanan, dan TNI
FGD ini menghadirkan lima narasumber yang mewakili unsur akademisi, industri pertahanan, serta pengguna dari tiga matra TNI, yaitu:
- -Ing. Ir. Mochammad Agoes Moelyadi, S.T., M.Sc., dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
- Bona Putravia Fitrikananda, dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
- Brigjen TNI Sundoro Agung Nugroho, M.Si. (Han), Wakil Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Wadanpuspenerbad), mewakili Sopsad.
- Kolonel Laut (P) Rasyid Al Hafiz, M.Maritim.Pol., M.Tr.Hanla., M.Sc., Pati Sahli Tk. II Bidang Straopslat, mewakili Sopsal.
- Kolonel Pnb Achmad Zailani, S.T., M.M., Paban IV/Jianstra Sopsau, mewakili Sopsau.
Diskusi dimoderatori Dr. Ir. Romie Oktovianus Bura, B.Eng. (Hons.), MRAeS, yang memandu pembahasan lintas bidang agar perspektif akademik, kemampuan industri, dan kebutuhan operasional pertahanan dapat terhubung dalam kerangka pengembangan riset yang terarah.
Keterlibatan narasumber dari ketiga matra TNI menjadi bagian penting dalam membahas kebutuhan pengguna, sementara kontribusi ITB dan PT DI memberikan perspektif akademik serta industri mengenai peluang pengembangan, rekayasa, dan pemanfaatan teknologi UAV HALE di Indonesia.
FGD diikuti perwakilan Kementerian Pertahanan, termasuk Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan; perwakilan TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara yang dihadiri unsur asisten operasi dan kepala dinas penelitian dan pengembangan masing-masing angkatan; Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi; Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas).
Selain itu dari PT Dirgantara Indonesia; Institut Teknologi Bandung; Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan (FTTP) Unhan RI; Ketua Program Studi Teknologi dan Teknik terkait (TTG) Unhan RI; serta para Kepala Pusat Penelitian (Kapuslit) di lingkungan LPPM Unhan RI.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut mencerminkan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pengembangan teknologi strategis. Riset UAV HALE tidak hanya membutuhkan keunggulan akademik dan kemampuan rekayasa, tetapi juga kesesuaian dengan kebutuhan pengguna, dukungan kebijakan, kesiapan industri, serta kesinambungan program penelitian dan pengembangan.
Dorong Hilirisasi Riset dan Kemandirian Teknologi Pertahanan
Melalui penyelenggaraan FGD ini, LPPM Unhan RI mendorong agar pengembangan riset tidak berhenti pada tataran konseptual atau publikasi ilmiah, tetapi dapat diarahkan menuju tahapan penelitian terapan, pengujian prototipe, validasi teknologi, dan peluang hilirisasi bersama industri nasional.
Sinergi antara Unhan RI, ITB, PT Dirgantara Indonesia, TNI, Kementerian Pertahanan, serta kementerian dan lembaga terkait diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih konkret. Kolaborasi tersebut dapat mencakup pemetaan kebutuhan riset, identifikasi kompetensi dan fasilitas yang tersedia, penyusunan agenda penelitian bersama, serta penjajakan mekanisme pengembangan teknologi sesuai dengan kewenangan dan kapasitas masing-masing pihak.
Bagi Unhan RI, forum ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat peran perguruan tinggi pertahanan dalam menjembatani kebutuhan strategis negara dengan kapasitas ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi nasional.
Dengan demikian, riset UAV HALE diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan daya saing teknologi kedirgantaraan Indonesia sekaligus mendukung pembangunan kekuatan pertahanan yang modern, adaptif, dan mandiri. (*)







